Sunday, September 18, 2011

I'm not that religious, but..

Seseorang teman lama yang kini tinggal berdekatan dengan saya, rupanya telah tumbuh menjadi pribadi yang.. emm, I'm not saying she's bad. Hanya saja ternyata memang pergaulannya sudah agak berbeda dengan saya. Dan mungkin jalan pikirannya?
Yang kini saya sadari bahwa, well, thanks to my parents and my community during school+college, saya masi dalam kadar biasa-biasa saja.
*biasa apa nih maksudnya?
yaaa.. at least ga culun2 amat, ngga kuper2 amat, tapi juga nggak seGAUL itu sampe mengGAULi orang #eh

Nah, sekarang saya lumayan sering jalan dengan teman saya yang satu ini (ketika kami sama2 ada waktu), dan 1 hal yang seriingg dia ajak ke saya dan belum pernah saya iyakan adalah, "shel.. ikutan clubbing yuk?"

Sebelumnya saya mau bilang, I do like having fun. I like music. I don't really like drink, but I'd love to try sometimes. But what I dont like?
-I dont like waste my money on something I'm not really into
-I'd rather sleep than wear high heels+short skirt+make-up+hair do just to meet "I dont know who" people and etc etc..(and FYI clubbing itu pasti jam 3an subuh gitu, mati ndak sih awak? scara jam 9 aja dah nguap2 kayak panci)

Sebenernya saya pengen coba kok. And I do appreciate teman2 lama saya itu mau ngajakin saya. Tapi yang jadi masalah adalah mereka rupanya begitu herannya dengan "kealiman" saya sampai nanya,
"kenapa sih Shel kok gamau? ya ampun baik banget sih kamu jadi orang.. de el el" And you should see their expression when saying that. Seperti orang yang heran, "kok kamu ga pernah mandi sih?" *jadi ngelantur

Sekedar intermezzo, salah 1 teman saya ini menganut agama yang sama dengan saya. Tapi SETIAP kali saya ajak ke gereja, dia pasti menunjukkan respon basa basi yang berujung pada, "nanti liat deh..nanti aku kabarin, tapi ga usah nunggu aku".
Saya merasa heran. Sama herannya dengan dia heran kenapa saya ga pernah mau diajak clubbing. Tapi toh? saya belum pernah bilang seperti itu ke dirinya.

Is refusing to go clubbing is more unusual or weird than refusing to say Hi to your God?
Well I'm not that religious, I'm really not. I'm just feeling strange with this community. Mungkin sangking lamanya saya ga bergaul dengan mereka, jadi saya benar2 ngga nyambung dengan hal yang satu itu..

Jadi mengingat quote dari mentor saya di kantor yang kira2 seperti ini:

"people in mental hospital will consider you're the crazy one"

Got the point?
Hehe.. Happy sunday anyway! ;)

I forgive you..

Baru saja membaca blog seorang teman yang baru saja diupdate, membuat saya jadi termotivasi untuk nulis blog kali ini. Bener2 deh, udah cukup lamaaa ini saya gak ngupdate blog. Padahal, jujur nih ya, saya serriinnngg skali kepikiran banyak topik yang slalu bikin hati ngomong, "okay I will write about this later on my blog". And what? I really did, tapi di tengah2 ngetik kata2 dalam postingan tersebut, eh.. mendadak mood ilang dan berasa gada gairah dalam nulis lagi. Lama2 kata2 yang dipakai buat ngerangkai postingan itu jadi garing dan renyah dan krispy *halahh*

Oiya, saya juga suka iri (iri positif) sama orang2 yang baguuss gitu kalo nulis cerita/blog. Kayaknya idenya ngalir gitu aja dan penyampaiannya pun bagus :D Saya sempet mengira kalo saya adalah orang yang seperti itu juga. But turns out? Kayaknya kadar malas saya makin tinggi saja kian harinya :D

Okeh lanjut,
sebenernya tadi pagi saya merasakan suatu hal yang (cukup) luar biasa menurut saya. Setelah kurang lebih 2 tahun saya menyimpan dendam yang luar binasa ke seseorang *tsaelaah*, tiba2 saat bangun dari tidur saya berpikir, "why can't I forgive you? Well.. I think I can, I will, and now.. I think I have"
Sebenernya darii duluuu saya udah banyak menerima wejangan a.k.a nasihat orang2 bijak, bahwa smakin kamu membenci seseorang, maka hal itu akan semakin merusak dirimu, instead of that person. Kamu benci seseorang? Apakah dia akan kesakitan? Nope. Dia kepikiran kamu? Bisa jadi iya. Bisa jadi nggak. Tapi apakah kamu mikirin dia? So pasti, no doubt. Secara tiap hari kamu inget2 tentang dendammu itu, gimana caranya gak mikirin?

Nah, sebenernya bukan hanya karna itu saja. Minggu lalu ketika saya masuk gereja (atau 2 minggu lalu ya? lupa), saya membaca suatu cerita di Alkitab mengenai perumpamaan tentang kerajaan surga. (ini saya cerita dengan kata2 sndiri ya.. hehe..),Jadi disitu diumpamakan kerajaan surga seperti seorang Tuan yang menagih hutang ke hambanya. Tapi hambanya meminta2 kesediaan dan kemurah hatian sang Tuan atas hutang tersebut. Tuan itupun merasa iba dan menghapus hutang hamba tersebut pada akhirnya.. Ketika sang hamba beranjak dari muka sang Tuan sambil berterimakasih sebesar2nya, di jalan dia bertemu dengan seseorang yang berhutang pula kepadanya. Maka apa yang terjadi? Dia menagih hutang tersebut tanpa belas kasih, tanpa toleransi. Tuan yang telah menghapus hutang2 sang hamba pun mendengar hal itu dan marahlah dia. Hutang kepada dirinya yang jauh lebih besar dibandingkan hutang kepada sang hamba saja dihapuskan, lalu mengapa dia tidak mau berbelas kasih pada orang yang berhutang kepadanya?

Aih udah cem pendeta gini sayah :">
Intinya kalo dulu pas kecil saya gak pernah ngeh dengan cerita2 dalam Alkitab (karna most of the content is filled with perumpamaan), jadinya langsung tersentak. Tuhan begitu seringnya mengampuni dosa saya (yang kebanyakan saya sudah tau bahwa itu dosa, tapi tetap saya lakukan), lalu kenapa saya tidak bisa mengampuni orang yang bersalah pada saya?

Selain itu juga, mungkin karna memang kedewasaan itu butuh waktu. Dan setelah saya pikir2 kembali, manusia memang tidak luput dari kesalahan. Maybe one day I trap in the same hole as he did, who knows? And it will last on one conclusion : "we're human being. we're THAT weak and full of sin."

Suatu hari nanti ketika saya berjumpa dengan kamu lagi, orang yang pernah saya benci stengah mati, I will smile and talk to you :) Hopefully so..

Thursday, September 15, 2011

As Stabil As Water In The Lake

ga banget ini judulnya :p
ya tapi itu kira-kira gambaran kehidupan saya skarang ini.. Kalo dipikir2 ini mungkin saat-saat paling menyenangkan buat saya selama hidup. No lover, means no heartbreak. No jealousy. No tears. Huaaahhh,, I even forget when was the last time I cried :)

I will remember this when one day I get a boyfriend, ohh I will be really missing this moment right now..