Saturday, August 4, 2012

Yeah, careless ME! (part 2) *Info about US Visa*

Sebenernya postingan kali ini lumayan bermanfaat untuk informasi aplikasi visa juga, kalau2 ada yang berencana membuat visa US (yang alkisah paling sulit untuk didapet). Tapi juga, postingan kali ini masih berhubungan dengan postingan yang sebelumnya, dimana saya menceritakan tentang betapa cerobohnya saya akhir-akhir ini *fyuhh

Jadi ceritanya bermula ketika saya berencana untuk apply visa US. Perlu diketahui bahwa (dan hal2 yang akan saya tulis dsini pun sbnarnya merupakan hasil browsing internet dan bertanya ke orang2 lain yang sudah pengalaman), bahwa visa Amerika untuk business trip maupun vacation, berlaku selama 5 tahun. Wow, cukup lama ya? Karena itu banyak juga rekan2 di kantor yang bilang ke saya, "lumayan banget tuh 5 tahun kan dapetnya. Makanya memang agak susah dapetnya". Selain itu, tahap2 umum dalam proses aplikasi visa Amerika adalah antara lain:
1. Membayar visa fee.
 Pada saat saya mengetik tulisan ini, visa fee untuk ke Amerika adalah sebesar Rp 1.520.000,- Dan for the record, ketika gagal mendapatkan visa setelah interview (rejected, in other word), applicant tidak akan mendapatkan uangnya kembali. *huft! Nah uang untuk membayar proses pembuatan visa ini pun hanya dapat ditransfer ke dua bank saja, yaitu Bank Permata atau Standard Chartered. Proses pembuatan visa saya dibantu oleh kantor tempat saya bekerja, maka untuk transfer-mentransfer sedikit terbantu. Ketika sudah membayar, jangan lupa untuk menyimpan bukti pembayaran! Ini sangat penting, karena bukti ini akan menjadi dokumen yang disertakan pada saat wawancara

2. Foto
Sebenernya secara pribadi saya heran, kenapa seluruh dunia menerapkan syarat foto visa yang berbeda2. Andaikata hanya ada 1 syarat pas foto untuk visa, tentunya segala tetek bengek administrasi visa akan menjadi lebih damai. Nah untuk kasus yang satu ini, ukuran dan prasyarat foto visa harus benar2 tepat, karena ketika ada kesalahan sedikiit saja, anda disuruh kembali lagi saat wawancara (and it happened loh, waktu saya ngobrol2 dengan salah satu applicant di embassy sana). Fotonya ukuran 5x5cm dengan latar belakang putih, dan syarat2 detilnya bisa dilihat disini. Oh ya, sebenernya untuk syarat prasyarat udah sangat lengkap diinformasikan di website resmi kedubes Amerika. Kenapa saya sebut foto ini sebagai tahapan kedua? Karena nantinya pada saat mengisi form DS-160, dibutuhkan juga foto tersebut.

3. Mengisi online form DS-160
Bisa dilihat disini
Hal penting mengenai pengisian form ini adalah, harus sejujur2nya, tidak boleh bohong entah apalah paspor anda pernah hilang/tidak, visa US anda pernah hilang/tidak, dsb. Karena kalau ketahuan bohong, pretty sure aplikasi akan ditolak *huft again!
Dalam mengisi form tidak harus selesai hari itu juga. Pada saat mengisi form, applicant akan mendapatkan kode, dan kode tersebut bisa dipakai untuk membukanya kembali kapanpun anda akan melanjutkan pengisian. Oh iya, ketika pengisian sudah fix dan selesai, submit, dan akan dapat lembar konfirmasi untuk DS-160. Lembar ini juga harus dibawa pada saat wawancara.

4. Membuat appointment untuk wawancara
Untuk proses ini saya dibantu oleh pihak kantor tempat saya bekerja. Tapi pada umumnya, appointment yang dibuat oleh pribadi, dapat memakan waktu kurang lebih seminggu (minimum). Dari proses inipun nantinya akan didaptkan lembar konfirmasi untuk appointment wawancara. Daaan, yap, penting untuk dibawa saat hari H

5. Menyiapkan dokumen2
Standard sebenernya. Selain foto, lembar konfirmasi DS-160 dan konfirmasi janji wawancara, bukti pembayaran, juga dibutuhkan dokumen2 standard seperti : sponsor letter (jika disponsori suatu perusahaan), rekening koran/buku tabungan, itinerary perjalanan, KTP,KK,akte lahir, daann..data2 lainnya yang akan mensupport bukti perjalanan anda. Oh iya, PASPOR! paling penting, dan smua dibawa termasuk paspor lama. Kalau sepengalaman saya, karna sudah ada sponsor letter, saya hanya perlu menunjukan Paspor, lembar konfirmasi, dan foto saja. Surat sponsor dari prusahaan ini sangat2 "sakti" karna dengan adanya surat ini, embassy udah ga butuh info tentang brapa jumlah uang saya di bank *mari qta bilang haleluyah

6. Get ready for The Day
Pengalaman saya, saya dijadwalkan wawancara jam 8 pagi, yang mana teman kantor saya sudah mengingatkan dari awal, "kalo gw bilang, lo udah harus ada disana jam stg 7, Sheil". Pikiran saya saat itu:"elah lebay amat undangan jam 8 dateng stg7. Tapi okelah, I'll try my best.". Nah emang dasar clumsy, saya brusaha dateng pagi juga, ujung2nya sampai embassy jam 7 pagi. Satu hal yang bodoh (lagi), saya benar2 ngga survey atau mencari tau dimana letak embassy tersebut, dan lain hal sebagainya. Dengan cueknya saya menuju kesana sambil nyetir mobil sndiri (kenapa ga naxi aja coba), dan sampai di depan embassynya,"JDERR", ternyata itu tuh bener2 di jalan protokol yang ga ada lahan parkirnya. Dan lebih paniknya lagi, jam sgitu itu antriannya puanjaaaangg.. Banyak petugas keamanan di depan embassy sambil membawa senapan. Saya buka aja kaca jendela mobil dan nanya,"pak, parkirnya dimana ya?". Security,"di Gambir, mbak". Yaelah, tau kannn gw Gambir dimana. Mana panik pula ngeliat antrian udah panjang. Mau tau kepintaran saya selanjutnya? Bebas aja saya parkir skitar 50 meter dari embassy, di pinggir jalan protokol itu juga. Waktu itu sih, banyak mobil lain yang parkir di jalan itu, jadi saya sebodo amat yang penting ngga telat wawancara. Dan lagi, karna saya ingat teman saya bilang kita ngga boleh bawa benda apapun ke dalam embassy (kecuali dokumen), jadilah saya tinggal semua dompet, HP, dan barang2 lainnya di mobil (another smart action, Sheila)

Proses ngantri di luaran embassy sampai masuknya cukup panjang juga. Memakan waktu kurang lebih stg jam lebih, dan di luar sudah diperiksa dokumen utama, seperti: konfirmasi janji wawancara (print), paspor. Di luar juga diperiksa barang2 elektronik atau apapun yang ada fungsi remote controlnya, dan diingatkan untuk dititipkan nantinya. Saat sudah sampai giliran masuk ke dalam area embassy, smua barang tadi dititipkan dan kita diberi nomor (jangan sampai hilang). Hal inilah yang membuat saya kemudian berpikir, "hell, knapa tadi gua tinggal di mobil ya? bawa aja trus dititip dsini mustinya". Setelah menitipkan smua barang2, qta masuk ke dalam area yang cukup luas, dan di kejauhan tampak kursi2 panjang dengan banyak orang yang mengantri sambil duduk di kursi2 tersebut. Rupanya mereka mengantri di loket2 tertentu (ada 4 loket), dan diwawancara disitu. Suatu ketika, salah 1 petugas di loket pun memberikan pengumuman,"bapak2 ibu2 yang mengantri, tolong dipersiapkan dokumen2nya, lembar konfirmasi wawancara, lembar konfirmasi DS-160, foto, dan paspor. Dokumen lainnya tidak usah ditunjukkan, dan jika anda maju tanpa persiapan, kami akan meminta anda mengantri lagi dari belakang." Sampai di depan loket, saya cuma dimintai dokumen2 tadi (saya lupa ditanyai apa saja, kalau tidak salah, bukan ssuatu yang krusial). Selesai dari loket tersebut, saya diberikan kartu yang bertuliskan nomor. Saya agak bingung, "loh ini blom slesai toh?" saya kira wawancaranya itu tadi "-___-, ternyata loket tersebut hanyalah 1 langkah dari langkah2 wawancara visa selanjutnya. Selesai diberi nomor, kita dipersilahkan masuk ke suatu pintu yang berisikan kursi2 tempat orang mengantri (lagi). Bedanya, di tempat ini ada yang berjualan minuman dan makanan. Di tempat ini pula saya berkesempatan berkenalan dengan beberapa orang dan ngobrol sdikit2. Salah 1 pelamar ngobrol dengan saya tentang transportasi ke embassy. Saya pun bercerita bahwa saya kebingungan untuk parkir mobil, dan akhirnya parkir di jalan raya saja. Dia bilang,"wah, hati2 lho. Mobilnya bisa aja diderek atau digembok. Kalo digembok, buka gemboknya bisa 300ribuan"
"Celaka 12!" pikir saya saat itu. Kok saya ga kepikiran itu sama skali yah? Dan saya tidak menyangka prosesnya akan cukup lama, kalau cuma satu jam mungkin mobil saya tidak akan kenapa2. Waduh.. jadilah saya harap2 cemas di dalam embassy. Cemas memikirkan visa saya, cemas pula memikirkan mobil. Ketika akhirnya nomor antrian dipanggil, saya pun masuk ke dalam ruangan yang lain. Di dalam ruangan itu ada skitar 8-10 loket. Ketika akhirnya nomor saya dipanggil, ternyata hanya untuk diambil sidik jarinya terlebih dahulu. Stelahnya, harus menunggu lagi untuk dpanggil wawancara. Banyak ya stepnya?
Yang melayani proses wawancara umumnya orang luar. Saat nomor kelompok saya dipanggil untuk wawancara, orang yang diwawancara sebelum saya tampaknya mengalami sedikit kesulitan. Namun memang orang itu saya rasa agak aneh, karena dia menyebutkan alasan ke Amerika,"ya kalau sekarang sudah ada uang, mau jalan2". Kalau tidak salah, visanya ditolak. Saya kira waktu itu, ini yang akan mewawancara saya tampaknya orangnya kurang ramah. Tapi ternyata tidak. Ini kira2 perbincangan saya dengannya,"
Saya: Good morning
Officer: Good morning. (....) Why do you want to go to US?
S: I want to attend technical review
O: What kind of technical review?
S: Technical review of deepwater field
O: (mengangguk). Where did you work before?
S: Oh, I'm a fresh graduate
O: Where did u study?
S: (Institut .....)
O: What did u study there (yang mana dengan geernya saya salah denger, saya kira dia memuji skolah saya, jadi saya jawab, "thank you", akhirnya dia menanyakan pertanyaan yg sama untuk kedua kalinya
S: Geophysical Engineering
O: Have you always wanted to work in Oil and Gas?
S: Yes
O: Do u have family in US?
S: No.
O: Ok, you got ur visa (kalo ga salah ni kata2nya, saya lupa juga, intinya permohonan visa saya diterima dan diberikan kertas berwarna putih)

Wah ternyata gampang sekali! Yah memang untung2an sih. Kalo menurut saya, kenapa wawancara saya lancar, karena:
1. Saya wanita. Biasanya wanita memang lebih tidak dicurigai untuk ke US, kecuali kalau alasannya tidak jelas. Umumnya wanita ditolak permohonan visanya, lebih karena bukti finansial.
2. Saya punya sponsor letter dari perusahaan, untuk mendukung finansial saya disana
3. Saya tidak memiliki nama yang mencurigakan. Saya diinformasikan teman, bahwa ketika mereka mewawancarai kita, mereka memasukkan nama kita ke dalam sistemnya, dan ketika ada banyak nama yang sama dengan nama kita dan "dicurigai", maka proses nya akan menjadi semakin rumit. Kemungkinan akan diberikan kartu kuning, yang berarti visa tidak ditolak, namun butuh waktu lebih untuk memeriksa dokumen lebih lanjut. Bisa2 proses ini memakan waktu bulanan, atau bahkan seterusnya. (Kadang tanpa alasan yang jelas)
4. Saya tidak gugup, dan berbicara dengan bahas Inggris. Somehow saya rasa ini suatu keuntungan juga dalam wawancara tersebut. Pewawancara menjadi semakin yakin dengan kita.

Oh iya, FYI saat saya selesai wawancara, jam menunjukkan pukul 10 atau 11 gitu. Agak lupa. Kurang lebih 3 jam berarti..
Selesai wawancara dengan hati gembira, saya kemudian dihantui oleh kecemasan lainnya. Bagaimana kabar mobil saya???
Benar saja, keluar dari embassy, saya berjalan berpuluh2 meter dan TIDAK MENEMUKAN tanda2 keberadaan mobil saya!!! Ahhh panik saya dibuatnya. Saya tanya satpol PP di depan jalan tersebut, mereka pun bilang kalau mereka tidak tau apa2. Saya pun menyusuri sepanjang jalan tersebut dengan berbekal high heels. Mana saya ngga bawa dompet atau HP saya! Ahh
Cukup lama saya mondar mandir, panik namun agak berlagak cool, sampailah saya pada pos DISHUB. Disana bapak2nya tertawa (yang mana membuat saya, ntah mengapa, sedikit lega), dan bilang,"di sana mbak. Di IRTI, seberang. Inikan peraturan pemerintah ya mbak, tidak boleh parkir di pinggir jalan ini. Saya: iya pak, maaf banget. Saya tadi sudah buru2 soalnya, ngga tau mau parkir dimana.
Dengan perasaan lega campur aduk cemas, saya buru2 menyetop bajaj yang kebetulan kok ya lewat di depan saya. "Pak, ke IRTI."
"Mau ambil mobil ya mbak?"
"Iya"
*sampai di depan IRTI...
"Mobilnya dimana mbak?"
"Nah itu pak, saya juga gatau mobil saya dimana". Dan seriusan, di sana itu parkiran guedee dengan buanyaaak mobil. Bingung kaga lu.
"Coba cari yang ada DISHUB2nya deh pak"
"Itu DISHUB neng"
eaaaaa,,, benar saja. Saya pun melihat mobil saya dari kejauhan. HALELUYAH!! EUREKA! *ga nyambung*
Berhenti dari bajaj, "brapa pak?"
"15rb aja"
"cuma ada 11 rb nih", lalu saya langsung turun. Di dekat mobil saya bertengger, saya melihat ada dua bapak2 ntah mas2 lagi berbincang. Gugup, saya bertanya,"Permisi pak, mobil saya kan.. di sini...", waktu itu saya kira mereka tau soal mobil saya yang diderek.
Bapak2:" ya? kenapa mbak? Oh.. mbak parkir disini? Itu pintu keluarnya mbak"
EALAAHHH.., ternyata mereka ngga tau menahu soal itu mobil yang diderek "-_____-
Saya: "Eh iya pak, makasi"
*buru2 cabut bawa kabur mobil dari IRTI

Saya gatau pengalaman ini pengalaman keberuntungan atau kesialan. Hahahaha... Yang jelas pulang2 dalam keadaan lega+hepi, dan masi sport jantung! Anggap saja Tuhan masi sayang sama saya :')
Lesson learned (again!), by the way...

















Sunday, July 15, 2012

Yeah, careless ME! (part 1)

Sebenernya kalo dipikir2, saya ini punya beberapa pengalaman yang menarik untuk dishare *pede*. Tapi dipikir2 lagi, saya tau apa yang jadi masalah, saya ga pandai menceritakannya di blog ini. Hahaa.. Pdhal dulu pas SD saya pernah mewakili sekolah untuk lomba Bahasa Indonesia sampe tingkat kecamatan loh. Hiks. *hubungannya apa*

Kali ini saya pengen menceritakan beberapa pengalaman kecerobohan saya yang terjadi dalam waktu yang berdekatan. Diinget2 lagi, kok saya careless banget yah?!

Awal Juni ini (2 minggu lalu) saya mengikuti fieldtrip di Kalimantan Timur, bersama seluruh anggota team di kantor. Kurang lebih kami ada ber-20 orang-an. Sebenernya, tiket yang dipesan itu sudah ditentukan jamnya, yakni jam 13.45 WIB. Berhubung salah satu anggota team saya ada yang dulunya tinggal di Balikpapan, dan deske kangeen banget sama salah satu makanan favoritnya disana, jadilah kami (ber4) memutuskan untuk mengganti jadwal keberangkatan kami menjadi 8.35.

Malam sebelum keberangkatan, saya sempet berpikir, flight jam 8.35 nih. Enaknya berangkat dari apartemen jam brapa ya? Biasanya saya berangkat kantor itu jam 6.15, sampainya jam 7. Hum, masak ini flightnya 8.35, brangkatnya juga jam sgitu? Males lah ya.. *ini pikiran bodoh yang sampe skarang saya masi ga abis pikir*. Jadilah gatau kenapa, saya bangun pagi jam stg 7 aja gituh. Siap2 seadanya (ga pake dandan), dan barang2 serta merta dilempar2in ke koper (knapa ga disiapin dari malem? yeah, itulah saya "-_-) Ga afdol rasanya kalo ngga melakukan ssuatu tanpa adrenaline rush. Keluar dari apartemen, saya nyari taksi di depan area apartemen. Biasanya nih, taksi yang mangkal bejibun! (Biasanya disini tuh sbenernya jam 5an, tapi yeah, lagi2 kebodohan saya yaitu ngga mikir kalo hari itu tuh weekday, dan jamnya orang2 brangkat kantor). Dan yak, benar saja, GA ADA TAKSI SAMA SEKALI DONKK di depan apartemen! Saya udah mo nangis aja ngeliatnya. Saat itu juga banyaaak orang selain saya yang kelimpungan nyari taksi (another jackpot). Jadilah di depan apartemen kita pada rebutan taksi, dan singkat cerita, saya baru dapet taksi jam 7 lebih 5! Sempet mikir mau naik ojek aja, tapi ya MUNGKIN banget kan yah, naek ojek sambil bawa koper gede. Huhu..

Masi ada 1 masalah lagi. Yak, apa itu? Macet. How come I didn't prepare for that? Untungnya taksi yang saya dapet ini, supirnya agak tau jalan tikus yang katanya lebih cepet. Tapi, gimana2 juga sampe ke airport ujung2nya jam 8 lebih 5 juga "-_-. And you know what would be stupider than that? Saya bukannya nyari orang bandaranya (tepatnya orang G***** Airlines) untuk kasi tau kalo saya udah telat dan butuh cepet check-innya, eh.. saya ngantri loh. NGANTRI sodare2.. huhuhu... Saya ngantri dengan santainya sampe jam 8.15, harap2 bego kalo bakal dibolehin check-in, karna di dalem ati saya: gue udah reserve seat kok. Ga bawa bagasi apa2 pula. And.. eng ing engg.. beneran, saya ditolak mentah2 sama petugas check-innya.
"Wah udah ga bisa ini mbak, ga mungkin lah. Ya udah, nanti balik aja jam 11, waiting list untuk flight slanjutnya". Seketika jantung saya mecelos saat itu juga.

Saya masi bingung, terpaku, cengok, gatau mo ngapain sampe jam 11. Nunggu di lounge, makan, minum, chatting, dll sbagainya sampe boseennn.. Dan akhirnya jam 11 yang ditunggu datang juga.
Jam 11 teng saya udah di depan petugas check-in bagian waiting list. Itupun masi disuruh tunggu 5 menit lagi, sampai daftar waiting listnya benar2 kebuka. Baruuu banget nih komputernya di-refresh sama petugasnya, do you know what he said?
"ABIS mbak. (teriak ke antrian di belakang saya) Balikpapannya ABIS smua! Balik lagi nanti jam 1!"

oh my god..

....

speechless

.

Seriusan, saya ampirrrr banget nangis di saat itu juga. Mata saya udah berkaca2. "Mbrebes mili" kalo kata orang jawa. Sambil ngomong skali lagi ke petugasnya, "pak.. tapi saya udah didaftarin kan utk WL flight slanjutnya?"
Sampe petugasnya kayaknya ga tega liat muka saya mo nangis, dia ga brani liat, cuma bilang,
"iya sayang, ntar ditunggu ya jam 1">> dengan gaya seakan ngomong ke bocah yang kehilangan ortu di bandara

Di saat itu juga saya bener2 gatau mau ngapain lagi. Masa nunggu 2 jem lagi di lounge? Dan balik ke counter itu untuk nunggu waiting list yang selanjutnya lagi? Gimana kalo saya ga dapet sampe flight yang malem?

Huft.. di tengah kegalauan saya, kok ya saya melihat sosok yang saya kenal. Eh ternyata rombongan team saya udah pada berdatangan ke bandara. Saya pun cerita kejadian yang saya alami, betapa cerobohnya saya sampai ketinggalan psawat. Salah seorang teman saya (seorang ibu2 yang dekat dengan saya) pun menenangkan saya dan bilang,"tenang, nanti aku temenin. Pasti dapet kok. Pasti kamu berangkat bareng kita2 smua". Ahh, tapi saya masi waswas ga karuan saat itu.

Jam yang ditunggu pun tiba, saya kembali lagi ke counter tersebut. Banyak calon penumpang lainnya yang juga menunggu kesempatan untuk flight selanjutnya. Saat menunggu WL ini pun disertai beberapa kejadian, seperti contohnya ada bapak2 yang sempet ngomel2 karna dikiranya kami memotong antrian. Ternyata banyak orang lain yang stress di antrian WL itu.

Saat waktunya tiba, kami sudah di depan petugas check-in waiting list, dan harap2 cemas menunggu kesempatan itu.
Petugasnya pun (dengan wajah srius menatap monitor komputernya) bilang,
"Balikpapan? Wah ga mungkin bu">> saya pun langsung pengen nangis lagi.
Teman saya: "Tolong dong pak. Cuma 1 kok. Kalo saya sudah dapet boarding passnya."
Sepertinya petugas ini menyangka saya dan teman saya ini ibu dan anak. Dan sang ibu sudah dapet boarding pass, sedangkan anaknya belum. Sepertinya dia kasihan ngeliat saya.
Dia pun menatap monitornya kembali dengan serius
"1 aja ya. Ya ya saya usahakan"
Lamaaaa sekali menunggu dia serius berkutat dengan komputernya itu. Sedangkan jam penerbangan sudah tinggal skitar 15 menit lagi. Anggota team saya yang lain bahkan sudah pamit mau boarding. Saya udah sangat cemas, tetapi teman saya itu bilang, "santai. pasti dapet"
Jam udah sangat mepet sekali ketika akhirnya petugas itu bilang, "ini, bayarnya di kasir". Hah? Masih harus ke kasir??? (dalam hati saya saat itu).
And you don't ask, ngantri ga sih di kasirnya? NGANTRI bo!
Saya udah deg2an setengah mati, lari kesana kmari dan akhirnya dapet boarding pass 5 menit sebelum jadwal take off!
Lari2 ke waiting room, dan ternyata pesawatnya agak2 telat sedikit. Huftt!!!
Eh ternyata ga sampai disitu saja, tiba2 saya ingat kalau KTP dan GFF saya masih ketinggalan di loket tadi, OMG...

Tapi mau diapain lagi. Berkat teman saya itu lagi, akhirnya kami meminta kontak salah seorang petugas di waiting room tersebut untuk menyimpankan kartu2 saya yang akan saya ambil ketika kembali dari Kalimantan. Yang penting saya sudah bisa berangkat saat ini, itu aja yang penting.

Walaupun, yah.. Ga bisa dipungkiri kalo saya masi merasa ada yang "ngganjel" selama perjalanan. Masalahnya, saya mau ngurus Visa dalam waktu dekat, lah KTPnya hilang. Harus ngurus lagi dong.. aduduhh...

Selama perjalanan saya mendapatkan teman duduk yang cukup menarik untuk diajak ngobrol, jadilah saya tidak fokus dengan pengumuman yang diberikan oleh pramugari. Eh tiba2 ketika kami landing, salah seorang teman saya bilang, "asik banget sih tadi ngobrolnya. Tuh tadi namamu disebut2 pramugari. Katanya ada KTP atas namamu."
"Hah?! Seriusan mas??" kala itu saya masi ga percaya. Maklum, temen saya itu emang suka bercanda. Tapi ternyata ketika saya tanyakan ke pramugari, memang benar KTP saya dan GFF ada di mereka. Rupanya ketika saya laporkan, petugas bandara langsung mengantarkan kartu2 saya itu ke pesawat. Ya ampun.. Puji Tuhan setinggi2nya T____T
Dari kejadian itu, banyak teman2 kantor saya yang becanda2 ngejek2in, "Terkenal ya kamu, dipanggil2 di pesawat didenger semua orang">> pdhal saya sndiri ga sadar kalo dipanggil.
Ahh.. yang jelas pengalaman kali ini jadi pelajaran berharga buat saya. NEVER EVER playing with tight schedule! NEVER!

Tapi klo soal ceroboh, ada lagi cerita saya yang lainnya. Sementara cape nih ngetik, dan postingannya udah kepanjangan. Nanti saya sambung lagi :)



Sunday, June 24, 2012

Dare to make a move?

Pagi ini baca milis, seorang alumni menyampaikan informasi mengenai kesempatan bekerja di kapal seismik. Kebetulan beberapa minggu lalu saya baru saja dari kapal seismik, sekedar menjadi "observer" beberapa hari, sekalian belajar, apa aja sih bagian2 penting dalam kapal tersebut? Gimana organisasinya? Apa tanggung jawab tiap kru kapal? Bagaimana mekanisme akuisisi seismik itu berjalan? Dst..dst..

Entah karena saya di kapal itu cuma 2 hari aja, tapi saya merasa kalau bekerja di kapal seismik seperti itu kelihatannya asik sekali. Pertama, kapal itu tuh baguus menurut saya. Kamarnya oke, ada TV di setiap kamar (walaupun memang channelnya diatur dari pusat. Jadi di tiap kamar cuma bisa 2 channel aja). Lalu makanan pun terjamin, chefnya setiap hari nyediain makanan udah macem di hotel aja. Ruang rekreasinya mantep. Ada 3 ruang rekreasi (1nya smoking room), dan di dalamnya tersedia alat musik, game (Wii, playstation), dvd player+dvdnya, buku2 bacaan, daan lain sebagainya. Masih belum saya sebut, di dalam itu ada gym (alatnya cukup lengkap untuk ukuran gym di kapal), dan sauna. Oh ya, ada juga kolam renang seadanya. Lebih seperti empang sebenernya, tapi oke lah kalo emang beneran mau berenang2 lucu.
Sebenernya dari keseluruhan itu, ada 1 lagi yang menurut saya menarik, krunya. Kru disitu juga menyenangkan dan beradab. Kenapa saya bilang beradab? Haha.. Ya karena walaupun kami wanita ini merupakan hal yang cukup 'langka', tapi mereka normal2 aja kok perilakunya. Bener2 berbeda kalau dibandingkan dengan kru pemboran. Ups.. hehehe.. Gak ding, kru pemboran juga sebenernya baik2 semua, tapi kalau "baru kenal" agak2 serem juga hihi

Satuu lagi hal yang sangat menarik kalau memang mau kerja di lapangan: Salary
Saya sebenernya ngga seberapa tau jelas berapa pendapatan kru kapal untuk bagian seperti saya ini. Kalau saya kerja di kapal, kemungkinan besar saya akan dipekerjakan sebagai data QC atau bagian processing data. Setau saya dari seorang teman, temannya dia di kantor yang sekarang (wanita) dulunya bekerja di kapal selama 2 tahun kalau tidak salah. Balik dari kerja di kapal, langsung beli rumah kontan 2M. Hem.. cukup menggiurkan. Hehehehe...

Dari semua hal2 menarik di atas, tentunya ada juga hal2 yang menjadi second thought. Apa aja?
1. Kemungkinan untuk merasa bosan/jenuh itu sangat besar. Mengingat jadwal kerja 5 minggu ON dan 5 minggu OFF. Selama 5 minggu, all you can see : your friends on the vessel, and the sea itself. Dengaan jadwal yang seperti itu terus setiap harinya. Ketika jadwal OFF? Mau jalan dengan sapa? Teman2 yang lain sibuk kerja di hari biasa. Hmm..
2. Pekerjaan yang dilakukan itu2 saja. Kalau skarang saya bekerja di kantor, most likely saya sudah diarahkan akan mengerjakan apa saja, belajar apa saja (contohnya juga saya bisa ke lapangan sewaktu2 ketika ada operation yang ingin saya pahami), dan tidak akan terpaku mengerjakan hal yang sama terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Yang mana juga katanya, ketika pekerjaan yang kamu lakukan hanya itu saja, walaupun pengalaman sudah bertahun2, ya nantinya ketika akan pindah haluan, tetap yang dihitung hanya pengalaman di bidang spesifik itu saja. Sedangkan pengalaman lainnya? Masih dianggap 0.

Terlepas dari pro dan kontra dalam pikiran saya, saya sempat berpikir pagi hari ini (ketika membaca milis tersebut), apakah saya akan menjadi orang yang berani menjalani suatu perubahan?
Ketika tidak menilai pro dan kontranya, mungkin yang menjadi imajinasi 'liar' saya (tsaelah imajinasi liar), adalah berhenti dari pekerjaan yang sekarang, pindah haluan untuk bekerja di kapal, nabung banyak2, lanjut sekolah, dan kemudian kembali mencari pekerjaan kantoran seperti sekarang ini :)

What a wild, exciting, and 'seems to be easy' dream. Tapi kembali lagi.. Would I dare to make a move? Not sure enough.. *grin*
Beside, there are many ways to go to Rome..  I may chase my dream using different path ways, maybe..*grin again*

Tuesday, June 19, 2012

Neighbour's grass is always greener

Sok2an bahasa Inggris ni judul postingan. Akakakaa..
Baruuusan banget saya tiba2 kepikir kata2 ini.
Intinya mah, mau seeeee BAHAGIA apa kehidupan seseorang, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia pasti merasa kehidupannya bukan yang paling sempurna. Ya iyalah ini mah ya.. Emang ada hidup yang sempurna? Walaupun saya sering sih mendengar atau membaca kata2 orang yang bilang, "my life is just perfect". But look inside her/his deepest heart, I know it is not.

Sotoy banget lu Shel.

Sapa tau emang bgitu adanya.

Hehe.. Gatau lagi sih :D

Yang jelas, setiap kali orang bilang ke saya, "Gila enak banget idup lo"
Saya mikir, "well.. yes it is fun. But there's always something missing. And THAT's .. because we're human"


tsa.. e.. lah :D

Thursday, June 7, 2012

I (heart) my boss!


My ex-Boss' (who currently is the boss of my boss) email. Oh, I heart u!

Sunday, May 6, 2012

What if?

Beware cause the post you're about to read is a little bit serious topic *opo toh.. lagian geer amat bakal ada yang baca

Ya, jadi kemarin malam saat saya lagi bobo bobo lucu di kamar, pikiran jadi kmana-mana >> sudah biasa. Trus lagi, saya jadi mikir, temen hang-out saya dalam beberapa hari akan segera menikah. Hem, sebenernya waktu saya pertama kali dikasi tau olehnya, agak2 syok gimana gitu.. Ya emang sih dia+pacarnya udah pacaran cukup lama, tapi selama hang out ga pernah sekalipun dia bilang kalo akan menikah (yang mana saya asumsikan, masih lama lah ya..). Sebenernya kalo dia mau nikah sekarang juga gapapa sih, cuman kok ya kenapa ya.. saya jadi agak2 merasa temen "asik jalan2 makan2" saya akan segera hilang. Kebayang ga sih, apalagi kalo nantinya dia udah punya baby, dan lain lain, dan lain lain.

Lanjut dari cerita diatas, nah lalu tiba-tiba pikiran saya jadi ke tempat lain. Dari SMA itu saya selalu membayangkan saya di masa depan adalah seorang wanita karir yang mau cari banyak uang untuk senang2 >> dangkal bet yak cita2nya. wkwkwk. Ya ngga sesimpel itu sbenernya, tapi yang jelas saya ngga pernah bener2 membayangkan saya sebagai seorang ibu rumah tangga di usia muda (don't get me wrong, basically this is because when I was a teenager, people who stated theirself as a phsychic always told me that my future spouse was still far away.. >> ini nyebelin abis sih, tapi yowislah.. mau ga mau jadi agak-agak percaya..)

Nah tapi kmaren malem tu saya tiba-tiba jadi mikir lagi,
what if..
what if..

Gimana kalau saya yang skarang ini adalah seorang Ibu rumah tangga?
Akankah saya bahagia dengan keadaaan tersebut?
Akankah saya memiliki anak dan mengurus mreka dengan baik?
Apa kegiatan saya sehari2?
Apakah saya akan cukup puas dengan hal itu smua?
Apakah saya akan berandai2 jika saya adalah seorang wanita lajang+berkarir?
Apakah saya akan berangkat kerja dan pulang kerja tepat waktu untuk berkumpul dgn kluarga saya?

I found it so real, because I am (almost) 24 and it's all possible. It's just, different path that I took. And Everyone must be thinking the same about their own life. What if.. You chose different option? Or what if.. life gave you that chance to choose different option?

Monday, April 9, 2012

Galau Update

Saya ngga tau ini tanda2 kedewasaan apa bukan (kalo iya kayaknya geer banget ya.. fufufu), tapi skarang saya makin sering ngenalin yang namanya ABG2 labil. Ato ngga usah ABG deh, orang berumur nan labil juga banyak. Sekarang setiap kali saya baca tweet yang isinya galau atau semi curcol, pasti mengernyit trus ngomong dalem ati: What The Hell?!

Mudah2an ngga ada yang baca postingan saya ini trus bilang, " kek lo ga pernah aja deh shel"
Ya mungkin pernah yaaa.. Jujur saya sbenernya pengen ntu aplikasi yang namanya twitter kalo bisa kita langsung pengen liat updatean berbulan bulan lalu atau bertahun tahun lalu misalnya. Saya yakin pasti updatean itu bakal bkin saya mengernyit sndiri dan bilang, What The Hell Did I Do by tweeting this?

Tapi skali lagi, saya seriiing banget mengernyit (mengulang kata "mengernyit") kalau baca status2 galau tersebut. Apa aja contohnya?
- updatean yang kira2 gini bunyinya, "I met him and He didn't even look at me at all. " Okeh sbnernya ga pernah sih ada yang update bgini, akakakak.. Saya ngarang aja. Tapi intinya sih sama. Updatean yang kayaknya serasa baca diary gitu ngga sih? Oke itu emang hak smua orang, tapi kesian aja bacanya kayak desperado gimana gitu..
- updatean cem gini, "okeh! cukup tau aja ya! aku udah berbuat gitu tapi ternyata balesannya gini..". Sejujurnya kalo saya baca ini di twitter masi sangat OK loh. Namanya juga twitter, kadang kita pengen mengekspresikan rasa kesel kita disitu. Tapi kalo di status bbm? Kayaknya ngga banget deh "-___-
Get a life, please. Or, get a personality training at least.
- updatean smcam: "pengen nangiss... :'(((( " what the hell woman? Ktauan nangis aja udah malu apalagi pake pengumuman Zzzzz


Baru sgitu aja sih yang bisa dirangkum. Sebenernya masi banyaak lagi update2an galau yang bikin saya di usia skarang ini *caelah* jadi geleng2 dan mikir, "what an ei bi ji (baca: ABG)"